“Setelah apa yang kulakukan beberapa waktu lalu, sepertinya seluruh jagad raya sudah tahu bahwa aku menyukaimu. Dan tentu saja aku malu mengakuinya. Namun, setidaknya aku tahu bahwa dengan menyukaimu aku akan selalu bersyukur. Meski aku tak bisa menggapaimu, melihatmu dari sini akan selalu membuatku bersyukur.”

For you, eL.

Mustahil untuk membunuh sesuatu bernama kenangan. Namun, ketika melupakannya maka ia pasti akan mati.
Adalah sebuah kebodohan untuk tetap tinggal di titik yang sama.

Life (still) goes on and must go on. It means that I have to move on.

Time to run

“Among all the bad things that happened in my life, dakwah and Hizb are the best things.”

Menyemai hati yang selesai

Memaafkan Masa Lalu


Masa lalu terkadang mampu memberi semangat dalam hidup kita. Namun, tak jarang masa lalu juga justru malah sebaliknya, menjadikan diri kita trauma dan frustasi.

Masa lalu terkadang mampu memberi semangat dalam hidup kita. Namun, tak jarang masa lalu juga justru malah sebaliknya, menjadikan diri kita trauma dan frustasi. Bila ada sederet kebaikan, prestasi, kebahagiaan di masa lalu, itu akan jadi pemicu semangat hidup kita di masa kini dan yang akan datang. Tapi, jika masa lalu dipenuhi dengan deretan kepedihan, kesakitan, kegagalan, bahkan kenistaan, pada saat itulah kita menjadi berat untuk melangkah di hari ini. Seakan tak ada harapan di masa yang bernama nanti.

Sahabat, kita harus berubah. Itu pasti. Tapi bagaimana dengan masa lalu kita dengan segudang kenangan yang warna-warni? Kuncinya hanya satu. Kita harus berani untuk mengikhlaskannya. Kita harus berani menerimanya dengan sepenuh hati. Itulah masa lalu kita. Begitulah masa lalu kita. Tak perlu kita nafikan. Tak pelu kita bohongi.

Saat masa lalu ada sederet kegagalan, terimalah kenyataan itu hari ini. Tak mengapa. Ikhlaskanlah dan jadikan itu sebuah makna dalam kehidupan kita. Ingatlah bahwa setiap orang pasti pernah mengalami kekalahan. Yang terpenting bukan kalahnya, tapi apa yang bisa kita pelajari dari kekalahan diri kita. Ingatlah pula dengan Rasulullah Saw bersama kaum Muslimin saat perang Uhud. Saat itu kaum Muslim kalah. Dan itu tak bisa dibohongi. Tapi yang terpenting kita bisa belajar, bahwa kekalahan itu bukan datang begitu saja. Tidak datang tiba-tiba. Ia datang dari “kelalaian” pasukan pemanah yang ada di bukit. Masa lalu kita pun demikian. Cobalah untuk mengikhlaskan kegagalan yang pernah terjadi, lalu kita pelajari apa gerangan “kelalaian” yang kita lakukan saat itu.

Masa lalu kita bisa jadi juga ada rasa sakit yang dirasakan. Apakah itu karena ucapan atau karena tindakan orang lain kepada kita. Baik itu oleh sahabat kita, tetangga kita, atau bahkan oleh orang yang kita cintai sekalipun. Itu bisa saja terjadi. Mulai sekarang, cobalah untuk memaafkannya, mengikhlaskan semua itu. Maafkan atas yang pernah dilakukan dan diucapkan orang lain kepada kita yang menyakitkan itu. Cobalah untuk mengikhlaskan apapun kesakitan yang kita derita karenanya. Cobalah untuk melihat bahwa di balik rasa sakit itu ada sejumput kebaikan yang Allah titipkan.

Masa lalu pun tak jarang juga ada kesedihan yang menemani. Bisa jadi kesedihan itu karena kehilangan orang-orang yang kita cintai. Tak adanya lagi orang yang menemani kita menjalani hari. Itu bisa menjadi sebab hadirnya kesedihan. Atau bisa jadi juga karena menjauhnya orang-orang dari kita. Dan lebih menyakitkan lagi yang menjauhi kita itu adalah orang yang sangat kita sayangi. Cobalah untuk mengikhlaskan semua yang pernah terjadi. Renungkanlah, bahwa kerinduan itu hadir bukan karena kebersamaan. Rindu itu ada saat perbisahaan ada. Renungkanlah pula bahwa semua yang ada di muka dunia ini sementara, termasuk kebersamaan kita bersama orang yang kita cinta. Itu sementara. Pasti ada masa dimana kita akan dipisahkan darinya. Itu niscaya.

Sahabat, ikhlaskanlah masa lalumu. Seperti apapun itu. Sedih, pilu, duka, gagal, terimalah lalu maafkanlah. Maafkan diri Anda sendiri. Maafkan orang lain yang menjadi penyebab sedih itu ada. Lalu segeralah mengikhlaskan apapun yang terjadi di masa itu. Ikhlaskanlah, relakanlah masa Anda menjadi bagian dari perjalan hidup Anda. Lalu, terbitkanlah harapan baru dalam diri Anda, bahwa masa depan akan ada kebaikan yang bisa kita dapatkan. Ingatlah, kemuliaan seseorang bukan ditentukan oleh masa lalunya, tapi ditentukan oleh pilihan di masa kini dan harapannya di masa depan. Kenapa kita masih terbenam di masa lalu, semantara kita sedang menjalani masa kita dan menatap masa depan? Yuk berubah. Ikhlaskan… ikhlaskan…

Asep Supriatna

Keren banget judulnya. Dan isinya ngena banget. Selamat berproses, selamat move on ^^

Saya Pilih Siapa?


Saya juga gak tau apa karena sindrom libur atau karena akhir-akhir ini saya banyak kerjaan dan banyak pikiran, saya tiba-tiba lupa sama hari dan tanggal *lagaknya sibuk banget. Padahal, orang sibuk juga masih bisa bedain mana hari Senin mana hari Sabtu* Saya sih ingat kalo ini bulan Juli. Tapi, saya gak inget kalo hari ini sudah tanggal 7. It means that, dua hari lagi perhelatan paling gede di Indonesia Raya ini bakal digelar. Apa itu pemirsa? Jreng jreng jreng, ya Pemilu Presiden atau disingkat Pilpres yang jatuh pada 9 Juli mendatang.

Sebelum-sebelumnya, dunia heboh. Gak hanya di dunia nyata, tapi di dunia maya juga. Dan bisa jadi dunia jin juga dibuat gempar dengan Pilpres di Indonesia. Pasalnya, pertarungan dua Capres harapan (sebagian) penduduk negeri ini bertarung habis-habisan dan mati-matian demi mendapatkan dukungan dari rakyat Indonesia. Berbagai spekulasi bermunculan seperti sinetron yang episodenya ratusan yang pemerannya selalu muncul di sana-sini. Segala macam kampanye dilancarkan, mulai dari kampanye putih, abu-abu, sampai merah-kuning-hijau *emang Pelangi?* Tapi, whateverlah. Dan saking kudetnya, saya sampai gak tau nomor urut Capres *hellow Dit, kemane aje loe?* Entahlah, apakah subjektivitas saya terlalu parah atau seperti apa sampai saya tidak bisa melihat dengan mata hati *indigo kali* Serius, saya sama sekali tidak tertarik. Tapi, tenang. Saya punya alasan. Saya tidak sekedar membenci personal. Saya punya alasan. Dan yang jelas, inilah jawaban saya ketika saya ditanya, “Dit, kamu milih siapa tanggal 9 Juli besok?”

Sebagai seorang Muslim, tentu sebelum melakukan sesuatu saya harus bertanya dulu kepada Islam. Saya takut, kalau-kalau apa yang saya lakukan hanya baik menurut kepala saya, tapi menurut Allah -sebagai Pencipta dan Pengatur hidup saya- itu tidak baik. Saya gak mau mengorbankan surga hanya demi sesuatu yang mungki saya anggap baik. Karena ternyata tidak semua hal baik itu benar *nanti saja dibahas kalo soal ini* Nah, sekarang kembali ke permasalahan awal. Tentang Pilpres kali ini, saya memiliki sebuah pandangan tersendiri. Dan tentu saya berani mempertanggungjawabkan bahwa pandangan saya adalah sebuah pandangan yang islami. Bukan karena fanatisme buta terhadap kelompok tertentu atau karena saya punya niat jahat terhadap negeri ini.

Mengenai pemimpin, di dalam Islam mengangkat pemimpin adalah sebuah kewajiban. Rasulullah SAW bersabda :

“Barangsiapa yang melepaskan diri dari ketaatan, maka kelak ia akan bertemu dengan Allah dalam keadaan tanpa hujjah. Dan barangsiapa mati sedang di pundaknya tidak ada baiat kepada seorang Khalifah (pemimpin) maka matinya seperti mati jahiliyah” (HR. Muslim)

Namun, perlu diperhatikan di sini. Pemimpin yang disebut Khalifah itu juga bukan sembarang pemimpin. Di dalam Islam, untuk menjadi Khalifah, seseorang harus memiliki setidaknya tujuh kriteria.

  1. Muslim
  2. Laki-laki
  3. Baligh
  4. Berakal
  5. Merdeka
  6. Adil
  7. Mampu

Mungkin dari kedua pilpres sudah memenuhi kriteria ini. Tapi, ternyata gak cukup hanya dengan kriteria ini. Ada lagi hal yang juga urgen namun seringkali terabaikan bahkan oleh kaum Muslimin sendiri. Apa itu?

Berbicara soal Negara maka pastilah Negara itu membutuhkan peraturan untuk mengatur urusan di dalam negerinya dan juga urusan di luar negeri. Maka, untuk mengangkat seorang pemimpin, jelas kita juga harus ngeliat aturan apa yang bakal diterapkan. Nah, syarat yang saya kemukakan di atas adalah bagaimana mengangkat pemimpin di dalam Islam. Dan tentu saja aturan yang dipakai pun aturan Islam. Okelah, dua capres udah memenuhi syarat-syarat menjadi Khalifah. Tapi, apakah aturan yang nantinya akan diterapkan oleh Presiden terpilih adalah aturan Islam? Oh, tunggu dulu. Mari kita lihat faktanya. Tapi, kan Negara kita bukan Negara Islam. Negara kita Cuma mayoritas. Mungkin ada yang berpendapat seperti ini. Atau ada lagi yang bilang, udahlah yang penting nilai-nilai Islamnya yang diterapkan. Kita ambil yang mudharatnya paling sedikit aja. Jujur, saya sudah pusing dengan kalimat-kalimat itu. Dari dulu juga selalu begitu tapi keberkahan tak kunjung datang di negeri ini. Yang ada justru sebaliknya. Semakin hari keadaan semakin bikin miris.

Ya, namanya juga Presiden. Gak mungkin sudi nerapin sistem Islam. Presiden itu kan istilah untuk menyebut pemimpin dalam sebuah sistem bernama Demokrasi. Dan seperti yang sudah diajarkan dari SD sampe kuliah, Demokrasi adalah pemerintahan dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat. Ya, itulah yang selama ini dikampanyekan. Bahkan kaum Muslimin pun mengamini hal ini. Bayangkan saja, kita ngaku Muslim. Bersyahadat dengan sepenuh jiwa-raga. Tapi, ketika sistem yang diterapkan adalah sistem yang berasal dari akal manusia yang lemah dan terbatas, kita mengiyakan dan mengamini bahkan membelanya mati-matian. Lalu, syahadatnya ditaruh mana?

Allah SWT berfirman:

“Apakah hukum jahiliyyah yang kalian kehendaki? Dan hukum siapakah yang lebih baik dari hukum Allah bagi orang-orang yang yakin?” (TQS. Al Maidah [5] : 50).

Saya pikir firman ini sudah jelas sejelas-jelasnya, bahwa Allah hanya ridho jika aturanNya yang diterapkan. Bukan yang lain. Fakta hari ini adalah kaum Muslimin yang seharusnya memiliki seorang pemimpin (Khalifah) yang mengatur mereka dengan hukum Allahjustru memiliki banyak pemimpin yang mengatur mereka dengan hukum yang bukan berasal dari Allah. Bukankah itu sebuah pengkhianatan terhadap apa yang sudah diyakini sebelumnya? Bahkan, Rasulullah SAW pun tidak pernah mengatur kaum Muslimin dengan sistem selain Islam termasuk dalam politik sekalipun. Meski dulu Madinah tidak semua penduduknya adalah Muslim.

Saya juga heran, penyakit apa yang menjangkiti kaum Muslimin hari ini sampai mereka begitu malu jika mengatakan mereka ingin diatur dengan hukum Islam. Ketika ada sebuah gerakan yang mengajak untuk kembali kepada sistem Islam yang kaffah di bawah naungan Khilafah, mereka malah beramai-ramai menolak dan mengabaikan seruan tersebut dengan berbagai macam alasan. Plis deh, mau dipertahakan kayak gimana juga, Demokrasi tetap sistem rusak. Yang namanya sistem rusak bakal ngebawa kerusakan juga.

Jadi, kesimpulannya lu milih siapa, Dit?

Kesimpulannya, saya milih Khalifah yang akan menerapkan Islam di bawah naungan Khilafah dan mempersatukan seluruh kaum Muslimin serta mengatur mereka dengan SyariatNya. Bukan ingin memecah belah NKRI. Justru karena saya sangat mencintai negeri ini, saya tidak ingin negeri ini terus-terusan dijajah. Saya tidak ingin negeri ini menjadi negeri yang hancur berantakan dan menjadi sampah dalam sejarah peradaban umat manusia. Bukankah kita milik Allah? Dan bukankah Indonesia juga milik Allah? Lalu, alasan apa yang membuat kita menolak hukum Allah yang jelas-jelas membawa kepada keberkahan dan kesejahteraan? So, mikir lagi deh sebelum memilih. Masih ada dua hari. Dan ingat bahwa semua bakal dipertanggungjawabkan di hadapan Allah. Bye, good night ^^

Shelter, July 7th 2014. 10:31 PM. 

 

Jalan Pulang


Jalan pulang itu selalu terasa lebih dekat [Ditri Ayu R.A.L]

Bagaimana rasanya ditinggal oleh orang yang sangat berharga bagi kita? Bagaimana jika kita sudah tahu bahwa beberapa jam yang lalu adalah saat terakhir kita bersamanya? Atau mungkin sebaliknya? Bagaimana jika beberapa saat yang lalu adalah saat terakhir kita melihatnya tersenyum kepada kita? Lalu, beberapa saat kemudian, ia telah pergi untuk selamanya.

Ini adalah kesekian kalinya saya mendengar berita kematian dari orang yang saya kenal. Dan rasanya sama. Lemas dan tidak bisa berkata apa-apa. Namun, satu hal yang pasti. Itu akan terjadi kepada setiap yang bernyawa. Dan Allah telah menyebutkannya berkali-kali di dalam Al Qur’an. Saya kemudian berpikir, bagaimana jika itu terjadi pada saya? Bagaimana jika Bapak atau Ibu saya yang meninggal? Bagaimana jika Kakak atau Adik saya yang meninggal? Atau mungkin jika beberapa saat lagi saya dipanggil oleh Allah melalui malaikat Izrail? Apa yang akan saya lakukan?

Saat ini banyak orang yang belum bahkan tidak siap dengan kematian. Mungkin saya juga seperti itu. Entah karena ada yang merasa masih banyak urusan di dunia ini ataupun yang lain. Atau mungkin masih banyak amanah yang belum ditunaikan, dsb. Namun, ajal itu akan menghampiri siapa saja tanpa bisa dimundurkan atau dimajukan.

Maka Umar bin Khattab berpesan, cukuplah mati sebagai sebaik-baik pengingat. Karena setelah mati, kita tidak akan bisa hidup kembali. Setelah mati, kita akan bertanggung jawab terhadap seluruh pilihan kita di dunia. Seluruh perbuatan kita. Siapapun dia yang predikatnya manusia.

Hari ini saya melihat orang lain meninggal. Besok, bisa jadi saya yang mengalaminya. Lalu, bagaimana dengan mereka yang ditinggalkan? Tentu saja perasaan sedih sebagai manusia itu ada karena itu manusiawi. Pastinya itu berat bagi mereka. Maka bersabar adalah pilihan yang pasti terasa sangat pahit. Namun, di sisi Allah ada balasan yang besar. Karena Allah takkan membebankan sesuatu melainkan dengan kesanggupan hambaNya.

Hari ini saya diuji masih dengan perkara yang sama. Perkara yang melemahkan saya yang datang dari diri saya sendiri. Masih di situ. Sedangkan orang lain sudah melewati tahapan ujian yang satu tingkat di atas saya. Mereka diuji lewat orang terdekatnya. Maka, ujian saya belum ada apa-apanya.

Mido Chan, semoga Ayahmu mendapat tempat yang terbaik di sisiNya dan semoga kelak kalian berkumpul bersama di surgaNya. Mido Chan, maafkan temanmu ini yang tidak bisa membantu lebih selain mendoakan beliau. Semoga Allah menguatkan jiwamu. Mido chan, kamu punya Ayah yang luar biasa. Jadilah anak shalihah untuknya.

Shelter, July 3rd 2014. 09:24 PM.

Dedicated to Mido’s Father and kak Eko Irwanto.

Bersiaplah. Berusahalah menjadi yang terbaik dalam dakwah untuk menjadi yang terbaik di sisiNya. 頑張れ!

Bersiaplah. Berusahalah menjadi yang terbaik dalam dakwah untuk menjadi yang terbaik di sisiNya. 頑張れ!

もっと、自分を信じてる。あきらめないで。
Percayalah pada dirimu sendiri. Jangan menyerah

もっと、自分を信じてる。あきらめないで。

Percayalah pada dirimu sendiri. Jangan menyerah

“Seorang pengemban dakwah, sebelum ia berdakwah maka ia harus mengenali dan memahami dirinya terlebih dahulu. Selain itu, ia juga harus mampu mengenali dan memahami lingkungan tempat ia hidup.”

disampaikan oleh ustadzah Dzaka Sajida al Majid dalam Upgrading MHTI Chapter UB (29/06/14)

“Orang yang bertakwa bukan hanya orang yang menjalankan seluruh perintah Allah, tetapi juga orang yang menjaga dirinya dari segala sesuatu yang akan menjerumuskannya ke dalam kemaksiyatan kepada Allah SWT.”

disampaikan oleh ustadzah Afiqoh Atqiya dalam Upgrading MHTI Chapter UB (29/06/14)

Kreon by Stijn.