“Bersyukur itu sungguh luar biasa, ia membebaskan kita dari jeratan penyesalan terkait masa lalu dan sekaligus dari segala kekhawatiran terkait masa depan, membebaskan kita dari kecemburuan dan kedengkian tentang segala yang kita belum punya dan segala yang kita belum menjadi.”

(alm.) Kak Eko Irwanto

“Membaca membuatku tahu apa yang harus kutulis. Menulis membuatku mengingat apa saja yang telah kubaca.”

Love both those

A Note for Grandma…


“Bijaksana bukan tentang usia, tapi tentang bagaimana mengambil pelajaran dari setiap peristiwa yang terjadi dalam hidup” (Siti Khadijah Nur Maryam)

Saya gak tau apa saya lagi mimpi atau masih mabok gara-gara jadi jadi alien setelah 8 jam di kamar. Yang jelas, saya ingin menulis ini. Saya ingin menulis tentang seseorang yang belum pernah saya temui. Tentang seseorang yang hanya saya dengan lewat cerita ibu saya. Tentang seseorang yang merindukan saya meskipun tidak pernah bertemu dengan saya. Dan saya tidak sadar sejak kapan saya mulai menyayanginya.

Saya adalah orang yang cepat percaya terhadap sesuatu. Jika menurut saya itu logis dan saya anggap benar sehingga saya terkesan polos, lugu dan manutan *meskipun dari luar gak keliatan sama sekali :D* Makanya saat saya diberitahu kewajiban menurut aurat, saya hanya jawab iya dan saya laksanakan besoknya. Ketika diberitahu kewajiban mengkaji Islam dan berdakwah, saya jawab iya insya Allah saya siap dan saya berusaha melakukannya meskipun tantangannya tidak sedikit. Begitu pun ketika Allah memberikan janji yang mungkin sulit dimengerti di saat-saat sulit dan saya pun merasakannya.

Allah berfirman :

“Maka sesungguhnya setelah kesulitan, ada kemudahan. Sesungguhnya setelah kesulitan ada kemudahan” (Al Insyirah : 5-6)

Saya seringkali dihadapkan pada kesulitan yang terkadang membuat saya kalap karena kurang sabar. Begitupun ketika saya harus menghadapi kenyataan pahit dalam keluarga saya di tahun kedua saya di universitas. Saya tidak hendak menyalahkan siapapun karena bukan saya satu-satunya yang mengalami ini. Orang terdekat saya pun ada yang mengalaminya dan mereka bisa tetap tersenyum. Namun, saya tidak pernah membayangkannya. Saya tidak pernah membayangkan kedua orang tua saya tidak lagi tinggal bersama. Saya tidak pernah membayangkan akan ada lelaki lain dalam hidup ibu saya selain Bapak dan Adik saya. Saya tidak pernah membayangkan semua itu. Karena saya sama sekali tidak tahu apa yang akan terjadi di masa depan.

Cerai. Satu kata yang saya lontarkan kepada ibu saya setiap kali ibu saya curhat tentang keadaan rumah kepada saya melalui telepon. Saya tidak memikirkan apapun. Seperti buah simalakama. Jika dipertahankan semuanya akan lebih buruk. Dan betapa kacaunya kondisi psikologis kami waktu itu. Saya, Kakak dan Adik saya. Saya tidak membayangkan akan bisa melewatinya.

Reaksi bermunculan dari semua pihak. Saya sudah mengira dan saya sudah bersiap-siap menghadapinya. Tapi, ternyata saya tidak sekuat harapan saya. Dan hanya Allah yang berhasil menguatkan harapan itu.

Tahun 2013 orang tua saya resmi bercerai. Dan tidak lama setelah itu, ibu saya menikah lagi. Di sinilah episode selanjutnya. Yah, mau diapain juga, saya harus tetap ngadepin kan? Awalnya rada bingung juga sih, berasa jadi rebutan ortu. Udah gede gini tapi karena paling jarang pulang jadinya kalo di rumah udah kayak seleb, diserbu orang-orang dengan pertanyaan dari A-Z. Ini pulang kampung atau jumpa fans ya? :D

Tahun 2014 adalah kedua kalinya saya tidak pulang kampung saat Idul Fitri. Tahun ini juga adalah tahun pertama saya resmi memiliki keluarga tambahan. Keluarga Bapak, keluarga ibu dan keluarga suami ibu. Entah kenapa mereka begitu sayang pada kami. Saya cuma bisa melongo tiap kali ibunya suami ibu saya bilang kalo kami bertiga adalah cucunya meskipun kami bukan anak kandung anaknya. Sering beliau menasihati suami ibu saya untuk menyayangi kami seperti anaknya, menjaga keluarga dan menjadi kepala keluarga yang baik. Haha, dramatis. Tapi, mungkin itulah hal yang bisa diambil dari orang tua. Saya jadi ingat Kakek dari ibu. Banyak sekali hal yang bisa saya pelajari dari beliau meskipun sekarang saya udah nyaris lupa karena waktu itu saya masih kecil :D

Nenek. Beliau memang bukan nenek saya. Tapi, saya selalu merasa beliau tulus pada kami. Dan saya percaya beliau orang baik. Nenek adalah sosok yang penuh kasih sayang. Kenapa? Karena beliau yang membesarkan semua anak suaminya meskipun dengan istri yang berbeda. Ya, Nenek itu menikah tiga kali. Dengan suami pertama gak punya anak, dengan suami kedua juga tapi suaminya sudah pernah punya anak. Akhirnya Nenek yang mengasuh. Barulah pernikahan ketiga punya anak. Jadi bisa dibilang keluarga ketiga saya ini rame.

Meskipun sekarang suasana keluarga saya belum bisa dibilang stabil, saya selalu berharap semoga suatu hari keadaannya akan membaik. Lebih baik dari sebelumnya. Life must go on. Karena waktu tidak pernah menunggu. Kita tidak bisa selamanya berada di titik yang sama. Ibu saya berhak bahagia. Dan jika memang dengan suami yang sekarang membuat Mama bahagia, saya hanya bisa mendukung dan mendoakan semoga tidak terulang lagi seperti yang sebelumnya. Semoga orang-orang bisa segera menerima kenyataan.

Nenek, terima kasih untuk kasih sayangnya. Suatu saat saya ingin tau darimana kasih sayang itu Nenek peroleh. Kok banyak banget dan gak habis-habis sampe gak sempat lagi untuk membenci? Dan saya yakin, Nenek pasti pernah terluka. Semoga, saya segera bisa mendapatkan kasih sayang itu untuk saya bagi kepada orang lain.

Miss you, grandma. Wish could meet you ^^

Shelter, August 19th 2014. 10:09 AM. Let’s deal with those all, Dit.

Perang Mu’tah, Alien dan Hikikomori


Gak terasa udah tanggal udah hari Selasa aja. Udah dua hari sejak HUT Kemerdekaan RI. Haha, kenapa malah tiba-tiba bahas 17-an ya? Yah, mungkin karena emang masih hot *dari oven?*

Baiklah, daripada berlama-lama, saya mau refreshing. Kemarin berasa jadi alien. Hikikomori 8 jam di kamar. Sadar-sadar udah maghrib aja. Duduk nyari Kanji plus artinya sukses bikin kepala nge-dance *apaan sih?* Taihen da naa… But the day has over. Now, I have time to write, yehee :D

Oke, kali ini saya mau cerita tentang apa yang saya kaji di halqah saya kemarin ba’da subuh. Ya, Daulah Islam. Kitab yang isinya tentang perjalanan Rasulullah mulai dari menjadi Rasul, membentuk kutlah, berdakwah, menegakkan Daulah Islam sampe keruntuhan Daulah Islam yang sekarang saya dan generasi Muslim hari ini merasakannya. Kacau-balau, porak-poranda, hancur-lebur. Tapi, gak tau apa Cuma saya dan segelintir orang yang ngerasain atau mungkin yang lain ada yang ngerasa tapi cuek aja, wallahu ‘alam.

Pembahasan kemarin tentang Perang Mu’tah. Salah satu perang yang luar biasa diantara sekian banyak perang yang dilakukan kaum Muslimin selama penyebaran Islam. FYI, Islam disebarkan dengan dakwah dan jihad. Bentuk jihad yang dimaksud di sini adalah perang. Tapi, itu gak sembarang perang. So, jangan samain kayak Israel nge-bom Palestine. That’s a huge different, dude. Sip, now let’s back to the topic. Tadi cuma trivia aja. Kalo mau bahas lebih lanjut, bisa ketemu saya :D

Perang Mu’tah adalah perang pertama kaum Muslimin melawan penguasa luar negeri di luar Jazirah Arab. Sebelumnya, perang yang dilakukan kaum Muslimin melawan kabilah-kabilah di Jazirah Arab. Seperti namanya, perang ini terjadi di Mu’tah, wilayah Syam (sekarang Suriah). Waktu itu Syam di bawah kekuasaan Romawi. Perang ini terjadi di bulan Jumadil Awal tahun 8 Hijriyah. Satu lagi, ini adalah perang pertama yang tidak dipimpin langsung oleh Rasulullah SAW.

Menurut saya pribadi, perang Mu’tah itu semacam Rectoverso-nya perang Uhud. Tapi, semoga ada istilah yang lebih bagus lagi. Dan perang ini sukses bikin saya nangis pas tau kisahnya. Meskipun di perang Uhud saya juga sedih tapi lebih banyak keselnya karena efek perang Uhud cukup bikin Rasulullah kewalahan untuk mengembalikan wibawa Daulah Islam dan kaum Muslimin. Saya juga akhirnya ingat kalo Mush’ab bin Umair meninggal di perang Uhud. Dan saya ngerasa katrok banget karena baru tau tentang perang ini soalnya dulu Cuma dapet cerita tentang perang Badar sama perang Uhud doang.

Sabda Rasulullah SAW yang paling bikin merinding di perang ini adalah setelah beliau menunjuk Zain bin Haritsah yang sudah seperti anak beliau sebagai panglima perang.

“Jika Zaid gugur, maka Ja’far bin Abi Thalib yang akan memimpin pasukan. Jika Ja’far gugur, maka Abdullah bin Rawahah yang akan memimpin pasukan”.

Ya Allah, itu udah kayak tanda aja kalo 3 panglima dari 3000 pahlawan terbaik kaum Muslimin itu bakalan gugur sebagai syuhada. Air mata saya langsung jatuh gitu aja meskipun udah susah payah saya tahan. Dan yang bikin saya tambah terkejut adalah turut sertanya Khalid bin Walid di perang ini. Bukan lagi sebagai musuh tetapi sebagai salah satu dari 3000 pahlawan terbaik kaum Muslimin. Keren kan? :D

Perang ini emang gak mudah karena kaum Muslimin harus melawan 200.000 total pasukan Romawi plus Heraklius. Kaum Muslimin awalnya mau ngirim surat ke Rasulullah tapi kemudian Abdullah bin Rawahah bilang, “Wahai kalian, sesungguhnya kita tidak memerangi mereka karena jumlah, tidak pula karena kekuatan, pun karena banyaknya. Tapi, kita memerangi mereka tidak lain karena agama ini yang dengannya Allah memuliakan kita. Maka, berangkatlah. Sungguh di sana akan kalian temukan, satu dari dua kebaikan, kemenangan atau syahid”.

Akhirnya, kaum Muslimin berangkat. Tapi, karena pasukan yang sangat besar, tentu ini saat-saat yang sulit. Para panglima gugur sebagai syuhada. Terakhir, Panji diserahkan kepada Khalid bin Walid. Dengan strateginya, Khalid berhasil memukul mundur pasukan Romawi dengan memerintahkan membuat kamuflase debu seolah-olah pasukan kaum Muslimin bertambah jumlahnya. Hasil dari perang ini pun seri.

Dari perang Mu’tah terlihat bagaimana loyalitas kaum Muslimin kepada Islam dan bagaimana loyalitas mereka kepada pemimpinnya. Terlihat pula keberanian para pasukan beserta yang melewati batas khayalan. Begitu pun para panglimanya, meski sudah dikabarkan syahid bahkan sebelum memulai peperangan, mereka tidak mundur selangkah pun. Bagi mereka, Surga adalah segalanya. Ridho Allah adalah cita-cita di atas cita-cita.

Begitulah aktivitas sebuah Negara dengan tujuan yang jelas. Begitulah Islam mengajarkan kita. Meski sekarang opini tentang Khilafah terus diusahakan untuk redup oleh orang-orang kafir, tapi Allah tidak pernah tidur dan Allah tidak buta. Allah akan menjaga Islam lewat orang-orang yang Dia pilih yang lewat tangan mereka Islam akan kembali tegak. Is that you? Oh, no. That’s us!

Last but not least, semoga kita termasuk di dalamnya. Generasi penjaga Islam terpercaya yang dicintai oleh Allah dan lewat tangan-tangan kita Allah memberikan pertolonganNya. Mari memantaskan diri and have a great day!

Shelter, August 19th 2014. 09:26 AM. Try to love myself the way I am.

(sumber : An Nabhani, Taqiyuddin. 2002. Daulah Islam. Jakarta. HTI Press)

Sepaket. My treasure.

Sepaket. My treasure.

“You just can see me when the sun sets..”

Jingga (Oren)

“Dakwah. Selalu membuatku memiliki rumah untuk kembali. Memiliki keluarga untuk saling mendukung. Memiliki sahabat untuk saling berbagi. Memiliki kekuatan untuk tetap berdiri.”

Jazakillah khair

“Cita-cita dalam dakwah. Ah, sepertinya itu yang selama ini terlupakan.”

Alhamdulillah. Allah still loves me more and more ^^

“Akhirnya aku lega. Aku lega setelah mengetahui semuanya. Meskipun pahit rasanya. Aku lega. Setidaknya aku bisa memulai langkahku lagi. Memulai semuanya lagi. Dari awal. Menjadi aku (lagi).”

Thanks for everything

“I’ll continue being a life observer as preparation to face my death.”

just another mind

Kreon by Stijn.